#GerakanMuteMassal, Valentino “Jebret” Siap Polisikan Nitizen

Oleh: Mr. Max Sepak Bola | Jumat, 12 Maret 2021 - 15:08:14 WIB | dibaca: 684 pembaca

    #GerakanMuteMassal, Valentino “Jebret” Siap Polisikan Nitizen

    Gerakan Mute Massal Twitter @SerieALawas

    Aremanoid.com –Tagar #GerakanMuteMassal menjadi salah satu tagar yang sempat ramai di platform Twitter,gerakan ini berawal dari komplain sejumlah nitizen berupa ketidakpuasan mereka terhadap pembawaan salah satu sport caster di ajang Piala Menpora.

    Nitizen beranggapan bahwa diksi yang digunakan oleh Valentino Simanjuntak tidak mencerminkan sepakbola sama sekali,seringkali saat membawakan acara juga membahas hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pertandingan yang tengah berlangsung.

    Tanpa diduga keresahan tersebut ditimpali oleh salah satu akun sepakbola terbesar di Indonesia yaitu Bali United,klub yang bermarkas di Bali tersebut sempat memposting tweet untuk meminta Indosiar selaku pihak yang menayangkan ajang Piala Menpora untuk tidak menggunakan kata hiperbola.

    Dugaan hiperbola diarahkan nitizen bahwa itu adalah tertuju pada sosok host acara tersebut Valentino Jebret yang selama ini memang dikenal sebagai sosok yang kerap menggunakan diksi tidak umum dan memiliki pembawaan yang menggebu-gebu.

    Sayangnya Valentino Simanjuntak justru seolah menantang balik nitizen,respon yang diberikan jauh dari apa yang diharapkan oleh sebagian besar nitizen,hal ini dianggap sebagai sikap anti kritik yang ditunjukkan sang presenter terhadap saran yang berada di sosial media.

    Tanggapan tersebut langsung menjadi santapan para nitizen,umpatan,dan cacian langsung seketika menghampiri akun media sosial yang bersangkutan,krititik pun juga disampaikan oleh salah satu host olahraga senior menyoal proporsi ideal sebuah siaran olahraga yang bisa dinikmati semua kalangan.

     

    Lalu munculah ide untuk melawan aksi tersebut dengan menggaungkan satu tagar perlawanan oleh nitizen,melalui ide yang disampaikan oleh salah satu akun di ranah Twitter,ternyata disetujui oleh yang lain dan direalisasikan dalam wujud tagar #GerakanMuteMassal dengan melampirkan video menyaksikan pertandingan tanpa menyalakan volume televisi.

    Sejatinya Gerakan Mute Massal ini menjadi masukan bagi sejumlah komentator sepak bola Indonesia yang dinilai terlalu lebay atau berlebihan. Maksud hati ingin menghibur penonton dengan ungkapan-ungkapan lucu, namun akhirnya membuat penonton merasa terganggu.

    “Karena sejatinya penikmat sepakbola juga butuh edukasi, bukan pendengar teriakan yang menimbulkan polusi” menjadi pesan utama Gerakan Mute Massal.

    Tindaka Hukum Valentino Simanjuntak

    Ramainya serangan terhadap dirinya membuat Valentino Simanjuntak memilih menempuh jalur hukum terhadap para hatersnya,yang terbaru terjadi pagi tadi Valentino melalui akun Twitternya memberikan warning terhadap sejumlah akun yang menyerangnya.

    “Saya mencatat beberapa akun yang ngomongnya kasar, ada tercatat 20-30 akun. Yang bukan sekali kasih komen tapi belulang kali. Dimana 50 persen mereka itu followers-nya nol,” kata dia.

    Kini, Valentino telah menyerahkan daftar akun-akun tersebut ke salah satu kantor firma hukum yang bakal mewakilinya melakukan pelaporan ke polisi. Menurut dia, surat kuasa telah diberikan jadi tinggal dilakukan pelaporan.

    “Jadi mau gimana, bagi gue kelewat batas, secara bahasa. Reply berulang kali, itu sudah kelewat batas,” ujarnya.

    Melalui akun Instagram miliknya, Valentino Simanjuntak menyebutkan salah satu akun yang diindikasi menyampaikan ujaran kebencian yakni @SiaranBolaLive. Ia pun meminta kepada akun media sosial lain untuk segera meminta maaf, jika tidak ingin dilaporkan ke polisi. “Kepada akun lain yang serupa yaitu menghina bukan mengkritik, saya tunggu itikad baiknya dalam 1×24, terima kasih,” tulis Valentino Jebret.

     

    Mr. Max
    Penulis: Mr. Max

    0 Komentar

    Tulis Komentar

    Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

    Komentar Facebook