[TRIVIA] Utak Atik Taktik, Kunci Kekalahan Guardiola Di Final UCL

Oleh: Mr. Max Sepak Bola | Senin, 31 Mei 2021 - 12:12:27 WIB | dibaca: 188 pembaca

    [TRIVIA] Utak Atik Taktik, Kunci Kekalahan Guardiola Di Final UCL

    Kekecewaan Pep Guardiola Saat Mengalami Kekalahan Di Final UCL Twitter @theflankerID

    Aremanoid.com – Gelaran final Liga Champions memang telah usai, tapi tetap saja ada sisi menarik yang dapat dikulik. Fakta bahwa Chelsea asuhan Thomas Tuchel mampu tampil lebih baik dari Manchester City dibawah komando Pep Guardiola. Salah satu rumor bahwa perubahan taktikal menjadi salah satu factor kekalahan City kemarin malam.

    Salah Satu Pembelian Mahal City Di Era Pep Twitter @ManCity

    Perubahan taktik tidak lepas dari baiknya kedalam skuat yang dimiliki City dibawah kendali Pep. Gelontoran dana hingga 942 juta poundstreling yang telah dikeluarkan Sheikh Mansour untuk memperkuat tim selama era Pep di City. Tapi satu hal yang dilupakan adalah lawan mereka adalah Thomas Tuchel yang kerap menjadi Kryptonite untuk pelatih berkebangsaan Spanyol tersebut.

    Dengan bekal pengalaman,pendekatan taktik yang berbeda serta skuat yang menjanjikan maka jadilah City musim ini menjelma jadi kekuatan yang menakutkan. Di Liga domestik misalnya, mereka berubah dari sebelumnya selalu bermain cepat dalam membangun serangan kini menjadi lebih bermain lebih sabar; tak buru-buru saat menyerang, meminimalisir umpan berisiko, dan menuntut pemain bergerak lebih cermat.

    Google Ads

    Itulah yang tidak tampak di partai puncak Liga Champions kemarin. Pep kembali ke kebiasaan lamanya, dengan berharap ketidaksiapan Chelsea. Ia memasang hampir seluruh pemain yang berkarakter menyerang di sektor tengah pada starting line-up. Dengan itu ia berharap selalu mendapat celah di tengah permainan Chelsea yang selalu solid.

    Ilkay Gundogan Menjadi Metronom Permainan City Twitter @TPTFootball

    Ilkay Gundogan lah yang mengembang peran tersebut kemarin malam. Ia bertugas untuk menjadi penyuplai bola yang cepat dari lini belakang ke lini depan, cepat juga menemukan ruang kosong. Dan alasan mengapa tidak memasang pemain berkarakter bertahan macam Rodri maupun Fernandinho adalah pemanpilan Rodri yang buruk saat terakhir bersua Chelsea, serta Fernandinho yang sudah dimakan umur sehingga akan kesulitan menghadapi pemain macam Mount maupun Kante.

    Performa Apik Antonio Rudiger Di Partai Final UCL Twitter @podcastretropus

    Beruntung Tuchel mengantisipasi hal tersebut. Dengan membentuk lapis pertahanan yang kokoh untuk melimitasi pergerakan City dalam mendistribusikan bola. Serta agresivitas yang ditunjukan pemain seperti Rudiger untuk memberikan gangguan salah satu pemain lawan setiap mereka membangun serangan. Di poin ini bahkan yang paling menonjol adalah peran N’golo Kante ia sukses mencatatkan 10 recoveries. Tuchel betul-betul memanfaatkan kemampuan bertahannya dgn sistematik. Membuat area bertahan mengecil & tentunya ada peran 2 stopper. Ini adalah jawaban taktik Pep.

    Sudah ruang susah ditemukan, pemain depan City pun di-press. Ditambah dengan pilihan para pemain Chelsea untuk melakukan long-ball dalam membangun aliran serangan. Ketidaksiagaan yang diincar Guardiola tak muncul karena pemain belakang Chelsea, toh, ya, disiplin di posisinya. Maka yang terjadi adalah City melepaskan 36 long ball selama 90 menit + di laga tadi. Tau angka rerata mereka musim ini berapa? Cuma 27!

    Titik Lemah Penyerangan City Ada Pada Sterling Twitter @ChelseaFCBlogs_

    Yang paling ketara dari perubahan taktik Guardiola adalah adalah merotasi posisi Phil Foden untuk memberi posisi Raheem Sterling menempati pos sayap kiri City, dan menempatkan Kevin De Bruyne sebagai false nine di laga ini. Foden sendiri sejatinya sedang dalam performa terbaiknya saat ini bila dibandingkan dengan sang kompatriot. Sterling sendiri dipasang demi upaya memerikan pressing ke sisi kanan Chelsea yang dihuni César Azpilicueta dan Reece James yang pada akhirnya tidak berhasil.

    Peluang tak datang, nestapa yang muncul. Sepanjang laga City hanya mencatatkan expected goal (xG) sebesar 0,52. Terkecil dari seluruh laga mereka musim ini. City juga cuma bisa melepaskan 7 tembakan dan 5 umpan kunci di laga itu. Sungguh kehilangan kreativitas dan taji.mereka musim depan di kompetisi Liga Champions, sebab sebelumnya di liga domestic mereka mengakhiri musim diposisi ke-7 klasemen.

    Andai saja Guardiola tak ngoyo untuk tancap gas kencang dan memilih untuk lebih pragmatis; coba menunggu, membiarkan Chelsea ambil inisiatif menyerang, seperti yang dilakukan pada laga vs PSG, mungkin hasilnya bisa berbeda. Lille, Atletico, Villareal & Chelsea. Basis tim juara-juara ini bertahan/pertahanan. Artinya meminimalisir resiko terjadinya gol. Baik menyerang, bertahan & transisi semuanya ada di dalam fase sepakbola. Bukti juga salah satu dari fase tersebut tidak bisa kita kucilkan.

     

     

    Mr. Max
    Penulis: Mr. Max

    0 Komentar

    Tulis Komentar

    Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

    Komentar Facebook