Skenario Terburuk Jawa Timur Gempa M 8,7 yang Picu Tsunami 30 Meter

Oleh: Mr. Max Viral News | Minggu, 06 Juni 2021 - 07:22:19 WIB | dibaca: 412 pembaca

    Skenario Terburuk Jawa Timur Gempa M 8,7 yang Picu Tsunami 30 Meter

    Kepala BMKG Prof Dwikorita Karnawati (Rengga Sancaya/detikcom)

    Aremanoid.com - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan terdapat tren peningkatan gempa bumi di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Dalam skenario terburuknya, bisa terjadi gempabumi hingga skala M 8,7 di provinsi tersebut hingga memicu tsunami. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan pantauan ini mulai dilakukan setelah terjadinya dua gempa di Jawa timur dalam tahun ini.

    "Memang sejak awal tahun kami melakukan, sebelum ada kejadian gempa di Jawa Timur yang sudah dua kali ini, tepatnya akhir tahun kami melakukan evaluasi di wilayah Indonesia ini mengalami peningkatan kejadian gempa bumi di beberapa daerah," kata Dwikorita dalam webinar kajian dan mitigasi gempabumi dan tsunami di Jawa Timur pekan ini.

    Dia menyebut secara umum terjadi lompatan kejadian gempa di tanah air dengan berbagai magnitudo. Sejak tahun 2008, rata-rata kejadian 4.000-5.000. Namun, sejak 2017, jumlah kejadian menjadi lebih dari 7.000 kali.

    Bahkan pada 2018, ungkapnya, terjadi peningkatan 11.900 kali dan masih bertahan di atas 11.000 di tahun 2019. Sedangkan pada 2020 masih di atas rata-rata 8.258.

    Angka ini ditemukan dari evaluasi di beberapa klaster di wilayah Indonesia ini mengalami peningkatan kegempaan, terutama di Jawa Timur atau tepatnya lepas pantai selatan Jawa Timur dan juga klaster di selatan Selat Sunda, selatan Jawa Barat, kemudian juga selatan Jawa Tengah serta sebelah barat kepulauan Mentawai yang dapat berdampak ke Sumatera Barat.

    "Fenomena itu yang saat ini sedang kami amati, kami analisis, dan ternyata di wilayah Jawa Timur itu pun juga mengalami peningkatan gempa-gempa kecil sebelum terjadinya gempa yang berkekuatan M 6.0 kemarin. Jadi kami sudah curiga sejak akhir tahun," terangnya.

    Dari sekian ratus kali gempabumi, dia menjelaskan ada zona yang kosong alias seismic gap. Zona-zona kosong itu dikhawatirkan lantaran belum melepaskan energi sebagai gempa.

    "Inilah yang kami jadikan skenario kita ambil kemungkinan magnitudo tertinggi ini juga berdasarkan kajian dari Pusat Studi Gempa Nasional kemungkinan M 8.7, dan itu yang menjadi dasar skenario untuk memprediksi kemungkinan terjadinya tsunami berapa ketinggian gelombang, kapan waktu datangnya, dan jarak masuknya berapa. Sehingga kami melakukan pemetaan bahaya tsunami juga," terangnya.

    BMKG, menurut Dwikorita, juga melakukan pemetaan terhadap kabupaten yang berpotensi mengalami genangan tinggi akibat tsunami. Berikut adalah perinciannya:

    • Pantai Teluk Sumbreng Trenggalek: 22 Meter (maksimal)
    • Pantai Popoh Tulung Agung: 30 Meter (maksimal)
    • Pantai Muncar Banyuwangi: 18 Meter (maksimal)
    • Pantai Pancer Banyuwangi: 12 Meter (maksimal)
    • Pantai Teluk Pacitan: 22 Meter (maksimal)
    • Pantai Pasirian Lumajang: 18 meter (maksimal)
    • Pantai Tempursari Lumajang: 18 meter (maksimal).

    BMKG mengungkapkan perlu mempersiapkan kesiapan jalur evakuasi.

    "Itu ternyata cukup banyak hambatan. Ada sungai harus menyeberang. Ada juga jalur evakuasi yang sebetulnya seperti Pacitan itu jalurnya sudah bagus tetapi harus menyeberangi sungai. Sudah siap juga aparatnya sudah siap, dan juga pemdanya sangat peduli," terangnya.

    "Jadi poinnya agar jalur ini dapat ditingkatkan lebih memadai fasilitas sarana prasarana dan tadi waktu datangnya tsunami itu terlalu cepat bila ada beberapa wilayah yang datangnya tsunami terlalu cepat dibandingkan dengan jarak tempat evakuasi sementara. Sehingga kalau berlari itu bisa terkejar."

    Menurut Dwikorita, hal itu perlu ditindaklanjuti. Entah itu melibatkan pemerintah provinsi maupun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

    Khusus untuk sumber daya manusia (SDM), dia menilai perlu ada latihan sesering mungkin. Sementara dari sisi prasarana perlu ada penyempurnaan rambu hingga rencana kontijensi perlu disempurnakan dengan SOP yang lebih jelas berdasarkan skenario terburuk peta bahaya tsunami.

    Konstruksi bangunan juga menjadi perhatian BMKG. Menurut Dwikorita, struktur bangunan yang ada tidak disiapkan untuk tahan gempa.

    "Juga ada kondisi tanah yang memang lunak. Nah ini potensi untuk mengalami amplifikasi atau penguatan guncangan bahkan bisa juga mengalami likuefaksi. Artinya standar bangunan tahan gempa perlu diterapkan kemudian juga audit bangunan-bangunan strategis seperti sekolah, mal, kantor-kantor untuk memastikan tahan terhadap guncangan hingga mencapai M 8,7," ungkapnya.

    "Tata ruang ini juga perlu memperhatikan zona rawan gempa bumi dan tsunami dengan skenario terburuk dan juga pengendalian pencegahan kerusakan lahan."

    Mr. Max
    Penulis: Mr. Max

    0 Komentar

    Tulis Komentar

    Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

    Komentar Facebook